Ringkasan Khotbah Minggu, 18 Januari 2009 (Pdt.Nico Ong)

Tema: Iman Yang Benar
Nats : Yakobus 2:14-26

John Calvin mengajarkan satu didikan kepada kita yaitu pribadi kita bukan milik kita tetapi milik Tuhan, oleh karena itu kita harus hidup menyangkal diri. Menyangkal diri dalam konsep John Calvin adalah kita berani untuk melupakan keberadaan kita, melupakan diri kita berarti menyangkal diri dari segala ketamakan, hawa nafsu, dan segala tawaran dunia ini, kita harus belajar memungkiri pribadi kita karena di tengah-tengah dunia ini saudara dihadapkan pada tantangan yang dikatakan dalam 2 Timotius 3:1-9.

Saudara yang terkasih dalam Tuhan, ini merupakan satu bagian dalam kehidupan kita di tengah-tengah masa ini manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang, mereka akan membual dan menyombongkan diri dan akan memberontak kepada orang tua, tidak tahu berterimakasih dan tidak memperdulikan agama, tidak tahu mengasihi, suka menjelekkan dan tidak suka yang baik. Saudara inilah satu bagian yang dikatakan oleh John Calvin, itulah keberadaan manusia, kenapa manusia harus belajar untuk menyangkal diri盡力忘記自己. Berusahalah, walaupun ini bukan mudah untuk dilaksanakan, dan inilah yang dikatakan progresif, inilah juga yang disebutkan dalam Ordo Salutis; kita diselamatkan bukan langsung jadi orang percaya, tetapi kita dapat diubah dalam panggilan yang kudus, dalam sanctification, diubah dan dikuduskan, disucikan, yang juga bukan berarti disucikan langsung menjadi orang suci, tetapi sifat kita dikikis, dibentuk, diajar, dipoles, sedikit demi sedikit. Kenapa Tuhan mengatakan “Aku adalah Penjunan dan engkau tanah liat, Aku adalah tukang pembuat tembikar dan engkau tanah liat yang sedang Aku proses dan Aku timpa, Aku bakar menjadi satu hal yang mulia” ? Ada yang mulia dan ada yang tidak mulia, maka kita belajar untuk menggeser atau membuang segala sesuatu yang untuk kepentingan diri kita sendiri, memikirkan diri kita sendiri itu terlalu mudah, tetapi bagaimana kita kembali kepada konsep daripada Paulus, bagaimana kita kembali untuk mengutamakan kepentingan orang lain. Itu terlalu sulit dan terlalu banyak pengorbanan, maka di dalam hal ini kita mulai memikirkan : kalau begitu, apakah dalam perikop yang sudah kita baca ini kita diminta untuk mengerti bahwa antara iman dan perbuatan bukanlah sesuatu yang bertentangan, antara iman dan perbuatan, bukan juga suatu yang berdiri sendiri; iman dan perbuatan merupakan satu bagian dan kesatuan yang saling melengkapi. Faith and good work (信心與行為) itu satu hal yang tidak dapat dipisahkan tetapi menjadi satu hal yang menjadi satu kesatuan, konsep paradox yang harus kita mengerti. Paulus di dalam surat-suratnya kepada jemaat di Roma, Galatia & Efesus memberikan tiga pengertian mengenai konsep keselamatan : 1) oleh karena iman, 2) oleh karena anugerah, 3) bukan berdasarkan perbuatan diri kita. Yakobus mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati adanya, tetapi di lain pihak Paulus mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh karena iman, oleh karena anugerah, bukan karena perbuatan. Maka Yakobus di dalam hal ini bukan mengatakan hal yang berlawanan dengan Paulus. Yakobus mengatakan 我們不單靠信心, 但是靠信心加上行為. Kita bukan diselamatkan hanya dengan iman, tetapi iman ditambah dengan perbuatan. Teologi reformed mengajarkan kita apa itu perbuatan baik, dan sebelum mengerti konsep perbuatan baik, kita mengerti dulu tentang konsep iman, 1) kita harus mengerti apa itu iman yang palsu dan iman yang benar, maka kita akan mengerti di dalam dua bagian ini, jangan mengatakan iman yang palsu tidak ada pengetahuannya, pengajarannya, hikmatnya, ability-nya. Justru iman yang palsu juga mempunyai unsur, yang dikatakan betul-betul murni di dalam hal ini 智慧知識 , tetapi wisdom dan ability yang menjadi kesatuan, apakah iman ini menyelamatkan? Kita memperhatikan di dalam bahasa aslinya, Indonesia ; sesuatu hal yang berbeda, yaitu masih dapatkah iman itu menyelamatkan dia, tetapi kalau di dalam bahasa aslinya, itu kata dapat tidak ada, dia langsung memakai kata 自, dapatkah iman itu menyelamatkan pribadinya, penekanan iman itu apa sebelum kita melakukan di dalam perbuatan baik. Seorang yang melakukan perbuatan-perbuatan baiknya di tengah dunia ini, tetapi ia tidak mengenal iman, dia belum mendengar iman yang sejati. Dan dia tidak melakukan perbuatan yang Tuhan perkenankan. Yakinlah bahwa di dalam statement ini, jika orang melakukan perbuatan baik, tetapi di dalam hatinya belum diperbaharui dengan konsep iman yang benar, dia melakukan tidak lebih dari apa yang dikatakan Calvin, karena semua orang hidup mementingkan dirinya sendiri, karena semua orang hanya memikirkan tentang uang, ketamakan, hawa nafsu, keinginan duniawi yang terlalu berlebihan di dalam pribadi kita. Mari kita berani dan jujur, saudara mengatakan saya tidak pernah memikirkan kepentingan diri saya sendiri. omong kosong! Jikalau tanpa ada anugerah Tuhan di dalam iman yang Tuhan berikan di dalam diri kita, kecondongan manusia itu lebih mencintai dirinya berkelebihan daripada mencintai orang lain, sekalipun saudara/suami/istri/pacar, mencintai diri sendiri jauh lebih besar daripada mencintai orang lain. Jadi saudara kita dapat mengerti baik-baik bahwa iman itu bukanlah sesuatu hal yang mati. Kemarin kita sudah belajar dari Ev.Andrew mengenai arti 真理就是那真實. Waktu kita membicarakan kebenaran itu mempunyai arti real, sesuatu hal yang benar dan itu sudah ada. Iman itu bukan sesuatu hal yang mati, iman itu adalah sesuatu yang hidup adanya. Kalau iman itu mati, itu bukan yang benar, karena seharusnya iman orang percaya itu bertumbuh. Saudara akan menghadapi tantangan, problema dalam hidup, Tuhan itu memperlihatkan tuntunanNya sedikit demi sedikit. Tuhan itu memelihara, sampai kita mengerti. Iman itu sungguh hal yang bukan yang mati, Tuhan mencukupi sedikit demi sedikit. Kadang2 dalam keluarga kita mengalami penderitaan kesengsaraan yang tidak mungkin kita bicarakan dengan orang lain. Saudara yang menjadi mahasiswapun, mengalami “kanker” (=kantong kering). Kepedulian dan kepekaan kita kepada orang di sekitar merupakan wujud iman yang benar, di mana iman itu mengandung kebenaran yang real dan hidup.Selain itu iman yang palsu pun mempunyai konsep pengetahuan, hikmatnya, tetapi mereka hanya menggantungkan dalam kesombongannya bahwa aku dapat melakukan perbuatan baik, seperti 大愛, kita harus belajar dari mereka semangatnya. Begitu ada orang tabrakan dia sudah ada di situ detik pertama kali, tetapi gereja tunggu diteriakin bangunin baru menolong orang. Dalam hal ini dapat disimpulkan apakah gunanya mempunyai iman tetapi tidak mempunyai perbuatan? Jika seorang saudara tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari dan seorang di antara kamu berkata, “Selamat jalan! Kenakanlah kain, makanlah sampai kenyang” tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya? Demikian juga halnya dengan iman. Jika iman itu tidak disertai dengan perbuatan maka iman itu pada hakekatnya mati, Di dalam zaman yang post-modern ini yang merelatifkan segala sesuatu, saudara harus lebih berhati-hati. Karena dalam melakukan perbuatan baik, belum tentu perbuatan baik si A terhadap si B yang dianggapnya baik, dianggap C baik juga. Manusia mempunyai konsep keadilan yang sangat relatif. Saudara tidak bisa mengatakan, “Aku bisa melakukan perbuatan baik.” Saudara melakukan itu berdasarkan pengetahuan pribadi saja, bukan sesuai dengan yang Tuhan tetapkan. Manusia akan menjadi sombong seakan-akan lebih sakti dari setan. Jangan dengan mengandalkan perbuatan baikmu maka engkau diselamatkan.

Iman yang palsu dikatakan iman yang tidak ada gunanya dan tidak ada faedahnya dan tidak berfungsi. Kita tidak mengerti darimana asalnya. Waktu Roh Kudus bekerja, itu tidak dapat dilihat oleh manusia, Roh itu tidak kelihatan. Banyak gereja saat ini yang salah mengerti akan keberadaan Roh Kudus. Roh itu adalah sesuatu yang tidak kelihatan, yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak dapat disentuh, tetapi ada baunya, saudara tidak tahu atau mungkin di sekitar saudara, tetapi saudara tidak mengerti. Pekerjaan dari Roh Kudus sekalipun tidak dapat dilihat, tetapi manusia bisa melihat hasil dari pada pekerjaan-Nya, yaitu memampukan manusia yang tidak percaya ini kembali melakukan segala sesuatu perbuatan baik. Tetapi kalau dalam iman yang tidak baik, iman itu tidak menghasilkan apa2.

Iman yang palsu itu tidak mempunyai keutuhan atau kesempurnaan. Berbeda dengan konsep Armenian : iman itu dgn perbuatan maka 50%:50%, kalau Tuhan melakukan tetapi aku tidak mau maka Tuhan tidak dapat berbuat apa-apa, begitu juga sebaliknya. Ini sebagai pelagianisme, dan semipelagianisme, sudah mempengaruhi konsep dari Armenian. Arti ‘kerjasama iman dengan perbuatan’ itu berarti iman datang terlebih dahulu mengaktifkan pribadi kita yang pasif. Contoh : Zakheus beriman kepada Tuhan dan iman yang menghasilkan perbuatan baik. Itu sesuatu hal yang baik. Kalau orang beriman semakin hari semakin brengsek, itu bukan orang beriman, Calvin mengatakan beriman berarti menyangkal diri.

Dalam kehidupan yang sulit ini kita diingatkan iman dan perbuatan menjadi satu kerjasama yang baik bukan karena kitanya. Iman yang palsu itu mati adanya seperti di ayat 17 dan 26. Karena kalau iman hanya seperti ahli Taurat dan orang Farisi, semua kita pelajari dan bisa kita ketahui; tetapi hanya mau belajar, tidak mau meresponi - itu bukan iman yang benar. Iman yang benar harus dibangun di atas pengetahuan akan Firman yang benar.

Yakobus mengajarkan kepada kita iman itu sesuatu yang mempunyai objek yang dapat dipertanyakan yang dapat diketahui/diselidiki/dianalisa meskipun tidak semuanya, tetapi bukan iman yang kosong. Teologia Reformed percaya bahwa iman itu ada yang Tuhan berikan untuk kita mengerti berdasarkan hasil pemikiran, analisa yang sudah Tuhan berikan kepada manusia. Waktu kita membaca Firman Tuhan kita dapat berpikir, dan meresponinya. Tetapi ada juga Firman Tuhan yang kita harus mengakui kita hanya bisa percaya berdasarkan iman. Karena kebenaran Firman Tuhan telah mengatakan darah-Nya Yesus menyucikan dirimu, Bagaimana caranya? Saudara tidak bisa memikirkan tetapi saudara menerima dengan cara apa? Dengan iman yang Tuhan ijinkan untuk kita berpikir, namun ada sebagian yang Tuhan tidak ijinkan . Semakin kita memikirkan semakin bidat adanya, seperti orang liberalisme mengapa menjadi orang yang sesat? Karena mereka memikirkan dengan darah Kristus menyucikan hatiku, tetapi arkeologi hanya penemuan saja bukan penciptaan, tetapi jikalau tempurung otaknya sudah mencurigai tentang kebenaran Firman Tuhan, apa yang dilakukan dalam analisa juga penuh dengan kecurigaan. Maka dalam pengetahuan dan kebenaran ini ada 3 hal:

1. Notitia menunjukkan sesuatu hal yang menunjukkan isinya. Jadi kalau kita mempunyai iman yang benar kita mempunyai iman yang berisi sesuatu hal yang dapat dipertanggungjawabkan, hal yang solid, benar-benar kembali kepada kebenaran Firman Tuhan.

2. Asensus artinya menyetujui dan mengiyakan apa yang saudara sudah ketahui, pelajari. Hatimu mempunyai sesuatu hal yang tersentuh, jadi dalam hal ini keberadaan hati manusia terhadap pekerjaan Tuhan yang mempunyai suatu respon terhadap pekerjaan Tuhan yang luar biasa.

3. Fiducia artinya seperti seorang anak kecil yang percaya pada waktu digandeng oleh papanya dan membaringkan di pangkuan papanya, ini artinya trust , yang berbeda dari believe. Trust bukan hanya sekedar percaya, tetapi bukan hanya di dalam sekedar mulut saja. Kita perlu menjadi orang-orang yang mengenal dan percaya akan konsep kebenaran di dalam notitia, asensus, dan fiducia.

Marilah kita belajar bagaimana beriman yang benar terhadap Tuhan. Bagaimana kita percaya, dan mengerti, dan belajar meresponi di dalam pimpinan Tuhan. Bagaimana menghidupi tentang apa yang kita percayai dan menjelaskan kepada orang apa yang kita mengerti. (SW)

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah.)

 
Share