Ringkasan Khotbah Kebaktian Minggu, 12 November 2008 (VCD Pdt. DR. Stephen Tong)

Tema : Jangan Menghakimi
Nats : Yakobus 4:11-12

“Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”

Martin Luther menganggap kitab Yakobus adalah kitab yang paling tidak penting karena paling sedikit mengandung Injil. Menurut Luther, keempat Injil (Matius,Markus,Lukas,Yohanes), kitab Roma yang menguraikan tentang Injil, kitab Kisah Para Rasul yang mengisahkan perjalanan murid dalam mengabarkan Injil, dan surat-surat para rasul yang mengandung berita Injil itu semua sangat penting. Tapi jika Luther benar-benar merenungkan kitab Yakobus, sesungguhnya kitab Yakobus itu sangat penting.

Dalam kitab Yakobus kita menyadari bahwa iman tanpa perbuatan mati adanya. Setelah reformasi 100 tahun, orang Kristen(gereja Lutheran) tidak mementingkan kelakuan karena berpandangan bahwa hanya dengan iman sudah diselamatkan dan perbuatan tidak penting. Sebaliknya gereja Katolik sangat mementingkan perbuatan yang dianggap bisa menghasilkan keselamatan. Kedua pandangan ini salah.

Alkitab mengajarkan hanya melalui iman kita dibenarkan dan iman yang sejati pasti menghasilkan kelakuan. Setiap kali kita berbicara tentang kelakuan, pasti bersangkutan dengan Taurat karena Taurat itu sebagai pencerah akan dosa-dosa manusia. Fungsi Taurat adalah untuk menyatakan:
1. Keadilan Allah
2. Kesucian Allah
3. Kebajikan Allah

Melalui Taurat, kita akan menyadari bahwa tidak ada agama atau ilah yang seadil Allah, sesuci Allah dan sebaik Allah. Dengan membaca Taurat kita seharusnya semakin menyadari kelemahan kita bukannya membuat kita semakin congkak. Tetapi dalam kenyataannya manusia berbuat sebaliknya, sebagai contoh, bangsa Israel menjadi orang yang sangat congkak karena Taurat hanya diberikan kepada mereka, dan menganggap diri adalah bangsa nomor satu dan bangsa lain tidak ada apa-apanya, sehingga bangsa Israel sangat mendiskriminasi bangsa lain. Contoh lain adalah orang Kristen yang merasa sombong. Sebenarnya apa bedanya orang Kristen dengan orang lain? Orang Kristen hanyalah orang yang telah dianugerahi, dikasihani, dan diampuni oleh Allah. Tidak ada kelebihan dari kita yang juga adalah manusia berdosa, jadi jangan sombong.

Melalui mengerti Taurat, kita menjadi lebih takut kepada Tuhan. Kita menjadi sadar akan kenajisan dan dosa pribadi, dan akhirnya kita akan menyadari bahwa kita tidak ada harapan untuk memenuhi standar Taurat itu. Jadi apakah tujuan Tuhan memberikan kepada manusia TauratNya adalah untuk membuat manusia putus asa? Tidak! Allah memberikanTtaurat adalah untuk membuat kita rendah hati dan dapat datang kepada Tuhan, bersandar kepada Dia.

Tetapi banyak dari orang Kristen sendiri menyalahgunakan Taurat yaitu dipakai untuk menghakimi orang lain. Sewaktu mendengarkan kotbah dan merasa kotbah itu cocok orang lain. Kapan kotbah itu cocok untuk dirimu sendiri? Jangan menghakimi!

Kalau begitu apakah kita boleh menilai orang lain? Ilustrasi ketika ada seorang yang sedang tidur di pinggir jurang, apakah kita berpikir itu adalah haknya orang itu untuk tidur di situ, jangan menghakimi dan tidak perlu memperingatkan dan membangunkan dia. Kita akan menjadi orang yang sangat berdosa ketika kita sudah tahu kebenaran dan tidak memberitahukan dia bahwa dia dalam kondisi yang bahaya.

Apakah seorang guru boleh memperbaiki soal ujian dari murid-muridnya? Bukankah itu juga menghakimi bahwa ini salah dan itu betul? Jika pikiran kita terjebak pikiran seperti itu, Kalau begitu kapan kita bisa saling membangun. Adalah salah jika kita tidak memberi tahu bahwa ini salah dan itu betul. Jadi letak perbedaan antara MENGHAKIMI dan MENASEHATI (MEMPERINGATKAN) adalah motivasi. Dengan motivasi yang baik dan Taurat dipakai untuk menjadi nasihat yang baik, untuk membangun orang lain, bukan untuk menghakimi.

Perkataan, kritik, nasehat, teguran, peringatan kita apakah bersifat konstruktif atau destruktif? Membangun orang agar lebih baik atau membuat orang semakin hancur? Roma 12:19 mengajarkan kepada kita bahwa barangsiapa yang mempunyai cinta kasih, baru mereka bisa menjalankan Taurat.

Dalam Yohanes 8:1-11 menceritakan tentang pertentangan mengenai Taurat. Orang Farisi yang mengerti Taurat menanyakan kepada Yesus mengenai perempuan yang berzinah ini dan mereka mau mematikan orang yang berzinah ini. Harus dibunuh sesuai dengan Taurat dan itu tidak salah bukan? Tuhan Yesus tahu pikiran orang farisi yang memakai Taurat untuk menghancurkan orang lain. Ketika ditanyakan apakah perempuan berzinah itu boleh dirajam mati atau tidak, Yesus tidak jawab boleh atau tidak, tapi menjawab siapa yang tidak berdosa boleh mengambil batu dan melempari perempuan itu. Dan kuasa Allah bekerja atas semua orang di sana. Mereka menjadi tersentak dan menjadi menyadari akan dosa-dosa mereka baik yang kecil maupun yang dewasa, satu-satu pun meninggalkan tempat itu. Dan Tuhan Yesus pun tidak menghakimi, karena Yesus datang bukan untuk menghakimi tapi untuk menyelamatkan. Jadi Tuhan Yesus mengajarkan adanya Taurat adalah supaya manusia kembali kepada keselamatan, bukan untuk membinasakan.

“Kalau begitu kita boleh berzinah dong? Karena Tuhan Yesus saja tidak menghakimi.” Jangan lupa kalimat berikutnya. “Pergilah dan jangan berdosa lagi.” Plato mengatakan jika aku menghukum engkau karena engkau berbuat salah itu adalah hal yang wajar, tapi kalau aku menghukum engkau supaya dosa tidak diulang lagi itu lebih penting.

Jangan saling menghakimi, jangan memfitnah, itu adalah menghakimi Taurat,. Karena itu menyakiti hati Tuhan. Sadarilah hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Hanya Tuhan yang berhak menghakimi dan menyelamatkan. Periksalah dirimu apakah dengan keberadaanmu bisa memberi berkat bagi orang lain, bisa membangun masyarakat lingkanganmu? Maukah kita membangun dan membawa manusia kembali kepada Tuhan, bukan mengerti Firman untuk menghakimi. (Rbt)
(Ringkasan ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah.)

 
Share