Ringkasan Khotbah Minggu, 30 Agustus 2009 (Pdt. Nico Ong)

Tema : Jiwa kepemimpinan Nehemia
Nats Alkitab : Nehemia 1:4-7)
Pengkhotbah : Pdt. Nico Ong

Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit, kataku: "Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang Mahabesar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya, berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa. Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu.
(Nehemia 1:4-7)

Berbicara tentang kepemimpinan, dunia sekular banyak menawarkan buku-buku kepemimpinan, sehingga banyak orang melupakan keberadaan Firman Tuhan bahkan menganggapnya sebagai buku yang ketinggalan jaman. Tetapi Firman Tuhan adalah sumber pengetahuan di atas pengetahuan yang lain. Dari kitab Nehemia kita akan belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam dunia ini, sebagai mercusuar yang memancarkan sinar bagi orang lain.

Menjadi seorang pemimpin bukan hal yang mudah. Kotbah kali ini menceritakan tokoh Alkitab yang bernama Nehemia yang menyajikan lima konsep kepemimpinan :
1.Mengidentifikasi masalah.
★ Nehemia mengerti bahwa tembok Yerusalem itu runtuh bukan karena Tuhan tidak setia lagi kepada bangsa Israel, tetapi sebaliknya karena bangsa Israel yang sudah tidak setia lagi kepada Tuhan. Hal itu terlihat dalam permulaan doa syafaat Nehemia yang mengakui Allah yang begitu setia (ayat 2).
★ Nehemia membawa masalah dan pergumulannya dalam doa kepada Tuhan.
Nehemia berani mengakui kekurangan bangsanya, pribadi dan keluarganya kepada Tuhan, dan memohon Allah untuk mengampuni serta meminta Allah memulihkan tembok Yerusalem. (ayat 6-7)
★ Nehemia berani memohon Allah untuk memakai dirinya untuk memulihkan tembok Yerusalem. Pemimpin yang baik bukan hanya berdoa tetapi juga mau ikut ambil bagian dari kesusahan itu sendiri.


Di sini kita dapat melihat bahwa Firman Tuhan bukan menekankan metode tetapi konsep pemikiran. Bila konsep pikir itu jelas, maka dengan sendirinya akan menimbulkan metode.


2. Berani memberikan solusi
Nehemia bukan cuma berdoa tapi berani bertindak. Nehemia yang saat itu hanya sebagai seorang juru minum, tetapi berani mempertaruhkan nyawanya dengan mengajukan permohonan kepada Raja Persia untuk kembali dan membangun tembok Yerusalem (ayat 11).
Dalam memberikan solusi ada hal-hal penting yang bisa kita pelajari, seperti :
★ Nehemia seorang yang perencana yang teliti. Ia memikirkan dengan matang seluruh proyek yang akan digarap. Mengantisipasi kesulitan yang muncul dan menemukan pemecahan yang tepat.
★ Ia tidak menganggap remeh suatu pekerjaan.
★ Ia sorang yang berinisiatif
★ Ia membagi tembok Yerusalem menjadi bagian-bagian yang kecil dan menempatkan orang-orang yang bertanggungjawab di sana.
★ Ia menjalankan pekerjaannya dengan konsisten sampai tercapainya sasaran.

3. Nehemia berani mendelegasikan tanggungjawab kepada orang-orang tertentu sesuai dengan talenta orang tersebut (Neh 3 : 1, 10, 17, 23, 30)

4. Nehemia berani memotivasi orang lain.
Nehemia berani memotivasi orang lain dengan membagikan visi yang Tuhan berikan, bukan saja kepada orang-orang Israel yang berada di Yerusalem saat itu tetapi telah juga kepada Raja Artahsasta (Neh 2:18).

5. Nehemia seorang pemimpin yang aktif dan pantang menyerah.
Pasal 4 menceritakan kerajinan dan ketekunan Nehemia sebagai seorang pemimpin, yang juga ikut bekerja untuk kepentingan Yerusalem.

Kita adalah laskar Kristen yang harus berani mengembalikan seluruh talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan Tuhan. Mari kita meneladani kepemimpinan Nehemia yang memberikan pikiran dan tenaganya untuk kemuliaan Tuhan saja; dia mempunyai motivasi yang tinggi dan praktek yang nyata, serta gesit dan cermat.

Tuhan mau mendengarkan setiap permohonan orang yang juga mengambil bagian dari setiap permohonan yang diucapkan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – Rr)



 
Share